Oleh Putu Swastawa
Biasanya, ketika kita lahir, kegemaran yang melekat kepada kita adalah mengamati bayang-bayang yang gelap, tetap menunduk terfokus kepada kegelapan dan ketiadaan object. Banyak kesulitan menjadi tiada terselesaikan, jika hari ini pergi dua atau tiga hari berikutnya, kesulitan itu datang kembali.
Pada suatu saat, setiap orang memiliki sebuah kesempatan saat dia beranjak dewasa atau tepatnya di suatu waktu di dalam masa peralihan remaja, dia akan sempat berpikir hal yang luar biasa, dan keputusannya terhadap pemikiran itu ditentukan oleh masa-masa sebelumnya. Sedikit orang memilih meneruskan ke arah yang menantang, walaupun perjalanannya bagaikan menginjak jalan panas di siang hari.
Ketika ‘pagi’ usia itu tiba, ada masa depan yang dapat disaksikan seorang pemuda, tampak di kejauhan sebagai hal yang indah dan ini menjadikan semua pemuda bahagia, bersama dengan penampakan fisik yang memang bernas sebernas semangatnya menatap bukit di kejauhan, setelah lama berjalan menunduk takluk.
Seharusnya, semua orang merasa sulit berjalan terlalu menunduk, dan karena itu dia mencoba berpandangan agak ke depan, agar dia dapat menghindar dari kejadian terantuk batu. Selanjutnya, ketika ada sesuatu yang mengambang di udara dan sempat menghantam kepala ketika berjalan, menjadikan orang berkeinginan menatap ke depa lebih jauh agar dapat mengamati tidak hanya benda di permukaan tanah, tetapi juga yang mengambang di atas tanah. Dan akhirnya, dia seharusnya bersuka hati mengamati semuanya, berjalan memandang ke depan, agak mendongak dengan dada tetap tegak, memanang tujuan di masa mendatang yang indah.
Salam bahagia
