Sesekali, di kala rinduku untuk ke singaraja,
kulepas jaket dan kubiarkan angin menyapa,
melambaikan tangan membelai kulit yang gersang,
lengas berkeringat tertiup hari membayang.
Langit menyapa dengan gerobak mega,
berbondong-bondong ke bukit impian,
mendahuluiku yang berkuda dengan roda,
tesungging dengan keramahan lambaian.
Berhenti mereka di gerbang perbukitan,
dengan pintu gerbak yang telah terbuka,
terdengar sorak sorai suara keramaian,
permata kesejukan datang menyapa.
Berderap dan bergemuruh,
menyerbu bagai bebatuan runtuh,
membasahi setiap bagian tubuh,
mebentuk rasa basah yang utuh.
Permata jatuh dari langit kebiruan,
yang berhias kapas tebal menyisakan kekelaman,
memberikan sejuta rasa kesejukan,
menyapu kelengasan hati dan kekalutan pikiran.
Permata merayap di sekujur badan,
menyelinap di setiap celah pakaian,
berbodong-bodong mereka sudah kerjakan,
pembersihan debu jalanan.
Permata, bulir hujan yang begitu bening,
berdebam, datang ke mulut menghapus kehausan,
menghapus kesunyian rasa hening.
Bulir permata kesejukan langit….
teramat bening…
teramat sejuk …
teramat ….
Salam bahagia













