Inspirasi
Hari iniseperti biasanya, cuaca panas. Aku tidak menghidupkan air conditioner. Walaupun kamar ini terletak di lantai kedua dari gedung berlantai 3, tetap saja terasa panas. Normalnya, udara akan sejuk di sini. Keringat mengucur deras menangapi panas ini. Badan ini mencoba meredam efeknya terhadap diriku. Namun, sudah benyak keringat keluar, menjadikan aku lemas dan mengantuk kehilangan cairan tubuh.
Isi Puisi
Kamar ini, terasa memar terbakar,
walau sudah terpayung atap dan lantai berlembar-lembar,
tidak jua dapat mendatangkan badan yang bugar.
Bulir permata keluar mengalir deras di sekujur tubuh,
berlomba-lomba ke tanah mereka berlabuh,
menyisakan tenaga yang semakin rapuh.
Aku terduduk lemas,
menahan badan yang kian lengas,
mengikuti tersengal-sengalnya nafas.
Bulir permata badan,
tetap mengalir tanpa tertahan,
Entah, dalam dunia yang panas ini,
permata badanku akankah terbang kelangit sunyi,
menggantikan permata langit yang habis terhisap jaman kini,
apakah dia dapat kujumpai di saat pagi,
datang sebagai permata pagi,
kuteguk dan menjadi permata badan kembali.
Salam bahagia
