Anda pernah memperhatikan badan anda setelah makan mie instant atau makanan lain yang bumbunya sama dengan mie instant?
Bumbu mie instant memiliki dua komponen utama:
- Ekstrak daging atau daging halus. Ekstrak daging ini memberikan rasa kaldu daging entah itu ayam atau daging sapi. Bagian ini tentunya merupakan pantangan bagi oragn yang begetarian atau vegan atau yang berpantang dengan salah satu atau semua daging yang digunakan sebagai bahan bumbu ini.
- Bumbu non daging, meliputi monosodium glutamat, garam dan bumbu yang disebut bumbu campur.
Saya memperhatikan badan saya setelah saya makan bumbu mie dan bumbu lain yang rasanya sama dengan bumbu mie instan. Saya akan membaahsa bumbu campurnya.
Saya membandingkan pengaruh bumbu campur pada mie dengan bumbu campur yang saya racik dari bahan-bahan bumbu yang saya jumpai di pasar. Menghasilkan perbedaan:
- Bumbu mie menghasilkan kencing yang berbau buruk sementara bumbu dari warung tidak.
- Bumbu mie menghasilkan gejala sariawan berupa dahak, batuk dan bibir pecah-pecah. Paling minim, di tenggorokan timbul dahak dan bibir pecah-pecah.
Atas dasar ini, sudah tentu bumbu mie menjadi bumbu yang tidak layak dimakan. Dengan alasan:
- Baunya kencing adalah tanda penguraian racun oleh hati. Jadi, bumbu mie intant bersifat racun bagi badan.
- Penyaluran racun melalui air kencing akan mempengaruhi ginjal. Racun ini dapat membunuh sel-sel ginjal sebelum dia dikeluarkan dan dibuang ke lingkungan. Jika sering-sering begini, ginjal dapat sakit dengan tanda diabetes atau sakit yang lain.
- Dahak dan sariawan adalah tanda pecahnya dinding sel. Jika dinding sel pecah maka upaya sel untuk membatasi invasi penyakit akan berkurang. Artinya pula, imunitas tubuh akan berkurang. Ini akan menjadikan badan mudah sakit.
Kesimpulannya, bumbu mie tidak layak dimakan oleh orang yang ingin bahagia.
