Jumat, 14 April 2006
Ibu tiba-tiba saja mengingatkan aku untuk menghadiri rapat rukun tetangga berdasarkan surat undangan yang diterima. Di surat undangan tertera jam 11.00 kini sudah jam 12.30. namun ada tetangga yang baru lewat, artinya rapat masih berlangsung.
Aku bergegas ke sana, memang benar rapat masih berlangsung dan beberapa saat kemudian beberapa orang datang menyusul. Hujan kemudian menyusul kedatanganku di sana, lebat hujannya. Peserta rapat bergeser ke daerah yang tidak terkena remah bulir hujan. Aku tidak ingin mengikuti tingkah demikian karena hujan itu begitu menyenangkan, begitu sejuk, aku tidak ingin meninggalkan kesenangan itu. Aku diam saja karena memang begitu menyenangkan. Rapat kemudian berakhir dan hujan pun reda.
Hujan berlangsung setengah jam namun air yang dibawakan ke tanah yang menjadi tempat pijakan rumah ini sedemikian. Air menggenangi halaman yang memang lebih rendah dari tanah sekitarnya. Ada pembatas yang kubuat untuk menggenangkan air di daerah abian telah rusak dan tidak diperbaiki. Air dari abian turut menggenangi halaman. Sementara pembatas yang kubuat untuk menghindari pembuangan air juga rusak menyebabkan air itu mengalir terbuang dari halaman ini.
Aku ambil cangkul dan skop untuk memperbaiki kedua pembatas itu, jangan sampai semua air mengggenangi halaman dan jangan sampai semua air terbuang dari halaman ini.
Dahulu, saat tanah ini dihentikan perolehan airnya oleh masyarakat banjar lapang ini, ayah dan seluruh keluarga ini merasa risau, bagaimana tanaman yang dipelihara di halaman ini dapat berbuah baik tanpa air. Aku juga merasakan betapa lelahnya mengangkut air untuk menyiram tanaman cabai yang kutanam bersama adikku, luh ayu.
Kini sang hyang widhi sudah memberikan apa yang kuminta, hujan yang berlimpah hampir setiap hari. Sudah masuk ke sasih kedasa namun hujan masih sering datang, sungguh ini yang kuinginkan karena aku merasakan betapa lelah mengangkut air untuk menyiram halaman ini agar tanah ini cukup basah. Aku tidak ingin air ini, susu langit terbuang dari tanah ini, aku ingin dia tersimpan di tanah ini memberikan kesejahteraan dan kemakmuran kepada semua penghuni tanah ini.
Aku begitu senang, tidak ada alasan mengapa aku begitu senang, darimana datangnya kesenangan ini, tidak perlu aku pikirkan. Tidak juga dapat kuberikan jawaban kepada orang lain karena aku tidak mampu memikirkannya, sduah cukuplah aku senang. Asalkan aku diberikan kesenangan demikian, aku senang.
Air hujan yang menggenangi halaman ini, datang dari langit dan tidak hanya halaman ini yang diberikan. Tidak ada apa-apa yang meyertai pemberian ini selain keinginan seorang purusa, sang brahma, sang pencipta. Sungguh berbeda dengan air sungai yang saat ini dikelola oleh subak, ada banyak bahaya. Ada banyak sampah, ada banyak kepentingan. Aku sungguh menderita ketika aku bergantung kepada air sungai itu, aku ingin sang purusa membebaskan aku dari derita ini. Aku ingin sang purusa memberikan penyelesaian derita ini. Sudah didatangkan penyelesaiannya dan patutlah aku begitu senang. Patutlah aku menerima ini dan menyimpannya di halaman ini. Tidak patut diriku membuangnya dari halaman ini seperti kesenanganku untuk memperoleh sesuatu yang menjamin kebebasanku dari kesulitan.
