Malam telah datang, gemuruh di langit kelam telah menyapa, membawa sekeranjang mega, berarak menuju perbukitan kelam, berbondong-bodong tiada sapa tiada kata.
Mereka tenggelam dalam kesibukan, mereka bersungguh-sungguh dalam kepastian, mendengar tangis benih bayam yang layu sendu, tergolek lemah tanpa bayu, kehilangan bulir-bulir kebeningan hati, yang hilang terbang ke langit biru, meninggalkan perca-perca debu.
Hari ini, o langit biru yang telah kelam, kuteriakkan kepadamu, o sang bayu, tolong sampaikan ke langit dan kerajaan cakrawala, telah kuminum berjuta tetes air sumur yang berkapur, telah kuhirup sirup jus mangga sebelanga, menghilang dahaga yang terus terasa.
O mega yang kelam tebal menaungi bukit yang membisu, turunlah dan mandikan kaki-kaki ilalang yang gersang, sirami lorong-lorong gorong yang kosong, padamkan api yang berkobar di hutan yang gosong.
O Mega, kuharap dirimu turun ke bumi, berupa sejuta bulir kesejukan langit tertinggi, membawa pernik-pernik permata pagi esok hari, menebar permata zamrud dalam hamparan tanah kering, memberi harapan kepada anak domba yang telah meringkik keras, kelaparan, kekeringan, dan kehausan.
Salam bahagia
