Setelah berlangsung cukup lama, akhirnya saya rasakan bahwa betapa menyenangkan terbebas dari kemarahan, kebencian, terbebas dari keakuan dan terbebasnya diri dari “relativitas pemikiran”. Bukan karena saya seorang yang suci saya merasakan bahagia, tetapi karena saya bisa tidak marah, bisa tidak mengaku paling “”, dan bisa tidak berkata bahwa saya paling baik atau orang lain sangat buruk.
Menghina dan mencaci orang karena kondisinya tidak sesuai dengan yang kita inginkan amatlah menderita dan menjadikan tidak bahagia. Sebab, mencapai kondisi baik seperti yang kita capai bukanlah sebuah upaya “mebalikkan telapak tangan”, perlu ada proses belajar agar kondisi baik itu benar-benar tertanam dan melekat serta sanggup membahagiakan orang yang memeliharanya. Kepatutan dari seorang yang telah mencapai kondisi yang membahagiakan adalah mengajarkan bagaimana kondisi yang baik itu dapat dicapai. Bahkan, seorang yang telah mencapai kondisi bahagia harus menemani perjalanan dari orang yang kondisinya belum bahagia hingga suatu saat orang yang belum bahagia dapat melakukan perjalanan kehidupannya sendiri.
Menemani seseorang untuk mencapai kondisi yang bahagia memerlukan penghapusan sifat “semuanya ingin dinikmati sendiri”. Jika kondisi bahagia itu dicapai tanpa meninggalkan sifat ini, maka jadilah orang yang bahagia tidak sanggup melakukan kepatutannya itu, kemudian dia akan mencaci orang lain, menghina orang lain, mengatakan orang lain sebagai orang kegelapan, atau mencoba memaksakan orang lain untuk harus mengikuti jalannya, namun dia tidak bisa menghargai apa yang sudah dilakukan orang lain ketika dia berusaha mencapai kondisi bahagia.
orang yang egositik demikian tidak pernah menyadari apa yang masuk ke dalam dirinya hingga dia dapat “bercahaya”. dia terlalu sibuk tenggelam dalam kebahagiaan kamar gelapnya. bahwa, dia dapat bercahaya atau bahagia demikian karena ada sesuatu yang masuk melalui pikiran, mata, hidung, telinga, mulut dan kecapan, dan seluruh permukaan tubuhnya, yang semuanya adalah “cahaya” dan ini termasuk bahwa “cahaya” itu disampaikan juga melalui “apa yang dilihatnya gelap”. yang terjadi, orang inilah yang sedang “menyenangkan diri di dalam kamar gelap”, bukan lingkungannya yang gelap. orang ini tidak sanggup menatap dunia yang terang karena ketika dia keluar dari kamar gelapnya, semua orang akan mengetahui bahwa “cahaya”-nya tidak akan berarti apa-apa di bawah teriknya cahaya matahari.
berikutnya, kepada orang ini akan ditunjukkan bahwa di luar kondisinya sangat terang, jauh lebih terang dari “cahaya” dirinya, orang lain jauh lebih bahagia daripada kebahagiaan yang dimilikinya.
salam bahagia
