Ada cerita menarik dari seorang teman.
Pagi-pagi, dia dan saudaranya ke pasar membeli semangkuk daging. Dengan terburu-buru, mereka pulang dan meletakkan daging itu di atas meja yang tingginya sepinggang. Mereka keluar dan lupa menutup pintu.
Mereka memiliki dua ekor anjing. Seekor lagi sejak lama sangat doyan makan daging. Sepeninggal teman ini dari dapur, tiba-tiba anjing itu lewat dan berhenti ketika mencium bau daging dari dalam dapur.
Endus-endus.. akhirnya dia berkesimpulan dagingnya di atas meja yang tidak terlalu tinggi. Happpp dia melompat dan mendapati ada semangkuk daging di atas sana. Dengan instingnya, dia tidak tahan menahan liur dan segera menyantap daging itu.
Ada saatnya dia lepas dari sifat-sifatnya. Sudah habis daging itu disantapnya, temanku datang dan mendapati anjing itu di atas meja. Tidak ada daging lagi di sana. Dia menanyakan ke saudaranya, dimana daging itu diletakkan.
Kesimpulannya, daging itu habis dimakan oleh anjing yang dilihat di atas meja.
Mendadak temanku ini bermanis-manis kepada anjing itu sambil meneyemunyikan tali di punggungnya. Anjing itu begitu gembira atas sifat temanku ini. Selama ini, dia tidak pernah diperlakukan begitu manis oleh tuannya. Betapa gembira hatinya. Dia begitu bahagia dan mendekat kepada tuannya. Inilah yang diimpikannya. Inilah yang diinginkannya di dalam kehidupannya yang menderita, tidak kuasa menahan instingnya untuk menyantap seonggok daging.
Akhirnya, yang dia impikan sudah dia peroleh, sikap teramat manis dari tuannya. Walaupun dia sadar ini adalah sebuah jebakan, karena dia mendengar sendiri sebelumnya bahwa tuannya marah-marah atas daging yang dihabiskannya dan di balik punggung tuannya ada seutas tali yang ujungnya terlihat menggantung terlihat di celah selangkangan tuannya. Akh… apa yang diinginkannya sudah dia peroleh, sikap manis dan bersahabat dari tuannya. Walaupun ini amat singkat, tapi ini sangat membahagiakan.
Apa yang sudah diimpikannya sudah diperoleh. Jika menunggu esok hari untuk dinikmati kembali, sikap manis itu akan sirna dan dia menderita kembali. Maka, dengan penuh kebahagiaan dia mendekat dan membiarkan lehernya diikat dengan temali dan di gantung dengan penuh kepuasan oleh tuannya.
Akh.. kapan lagi bisa memuaskan dan membahagiakan tuannya seperti itu. Dia begitu bahagia dapat memuaskan tuannya demikian. Dia kini terbebas dari insting yang tidak dapat dikuasainya. Demikian juga tuannya terbebas dari derita akibat menanggung susahnya dia lepas dari insting itu.
Dengan lidah tak sanggup ditahan, dia menjulur dan mengucap terimakasih.
Terima kasih, tuanku. Aku tidak pernah engkau ajari untuk tahu diri dan menyelesaikan insting yang teramat menyiksaku ini. Insting ini benar-benar menjadikanku menderita. Ketika kamu menyediakan jalan kematian yang menjadikan aku dapat lepas dari insting ini, aku amat bahagia. Aku sangat berterima kasih karena kamu bersedia menyediakan jalan yang teramat membahagiakan aku.
Salam bahagia













